Blessing Based Spiritual Nurture

YESUS NAKHODANYA


Nats: Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha
orang yang membangunnya (Mazmur 127:1)

Pada hari ulang tahun pernikahan, saya dan suami mencoba melihat kembali hari-hari yang telah berlalu. Dalam ingatan kami, ada banyak gelombang hidup yang telah menghantam bahtera rumah tangga kami.Kelahiran anak-anak yang melipatgandakan kebutuhan dan mendatangkan stres, masalah kesehatan yang bergantian menyerang saya dan suami, juga perubahan karier yang mengguncang keuangan. Setiap beban rasanya menambah berat langkah kami dalam menjalani hidup ini.

Namun, pada hari itu juga kami bersyukur karena kami telah melihat tangan Allah bekerja dan memberi kami kemenangan. Ya, bukan oleh kekuatan kami, tetapi karena sejak awal kami telah mengundang Dia memimpin keluarga kami. Bila Yesus menjadi Sang Nakhoda, kami tahu Dia patut dipercayai, dan Dia pasti sanggup memelihara kami.

Hari ini kita membaca pengamatan sang pemazmur bahwa keluarga orang yang takut akan Tuhan akan diberkati. Sang ayah akan diberkati usahanya (Mazmur 128:2). Sang istri akan diberi karunia untuk melahirkan anak-anak, sehingga memenuhkan kebahagiaan dalam rumah tangga (ayat 3). Bahkan selanjutnya dikatakan bahwa mereka juga akan diberi kesempatan untuk mengecap kebahagiaan memiliki cucu-cucu (ayat 6).

Dewasa ini banyak media mengungkap rahasia membangun keluarga bahagia. Namun, sesungguhnya yang terbaik telah dibeberkan oleh firman Allah sendiri. Bila Dia menjadi Nakhoda bahtera rumah tangga kita, maka tak ada badai yang tak dapat Dia redakan.

BAHTERA RUMAH TANGGA AKAN MENCAPAI TUJUAN
BILA YESUS DIUNDANG UNTUK MENJADI NAKHODANYA

Mazmur 128:1-6

  1. Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akanTUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!
  2. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
  3. Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!
  4. Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
  5. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,
  6. dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

February 17, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

AKU MENGINGATMU!

Nats: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2)

Roger sadar dirinya menderita penyakit Alzheimer dan ingatannya bakal hilang. Ia takut kelak tak bisa mengenali istri dan anaknya lagi sehingga ia menulis di catatan hariannya demikian: “Sayang, akan tiba harinya aku lupa segalanya. Tidak mengenalimu dan anak-anak, meski kalian di dekatku. Saat itu terjadi, maafkan aku! Ingatlah, aku
sangat mengasihimu.” Esoknya, sang istri membaca tulisan suaminya sambil menangis. Ia menulis di bawahnya: “Sayang, jika semua itu terjadi, aku akan tetap merawatmu. Engkau telah melamarku dan setia di sampingku puluhan tahun. Aku mengasihimu bukan karena engkau mengingatku, tetapi karena aku mengingatmu.”

Betapa indahnya pasangan yang saling memberi dorongan semangat. Dengan kata-kata penuh kasih, mereka “bertolong-tolongan menanggung beban” (Galatia 6:2). Sayangnya, banyak orang lebih suka meluncurkan kritik yang melumpuhkan. Padahal menurut Paulus, sekalipun kekasih kita melakukan pelanggaran, kita tak perlu melukainya dengan
kata-kata kasar. Ia perlu dipimpin kembali “dalam roh lemah lembut” (ayat 1). Mengapa? Karena dengan bertindak kasar, kita menempatkan diri seolah-olah lebih baik, lebih berarti. Kita jatuh dalam kesombongan. Kritik pedas itu pun menghancurkan! Hanya kata-kata penuh kasih yang bisa memulihkan.

Orang-orang di sekitar kita sangat memerlukan kata-kata pendorong semangat. Sudahkah kita memberikannya? Apakah yang memenuhi mulut kita; pujian atau makian? Kata-kata penuh kasih atau kritik? Mari kita gunakan lidah kita untuk menguatkan seseorang hari ini.

Galatia 6:1-5

1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu
pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke
jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu
sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu
memenuhi hukum Kristus.
3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia
sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.
4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia
boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat
keadaan orang lain.
5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

JIKA ANDA INGIN DIINGAT ORANG
BELAJARLAH MENGINGAT KEBAIKANNYA

February 14, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

CINTA MARLIN

Nats: Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu
semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satu pun dari padanya (Mazmur 139:16)

Marlin dan Coral, sepasang ikan badut, sedang menanti telur-telur mereka menetas. Mereka asyik membicarakan nama anak-anak mereka nanti. Mereka juga mengenang masa indah pertemuan mereka dulu. Namun, rupanya bahaya mengintai mereka. Seekor barakuda berkelebat dan menerjang sarang mereka! Akibatnya, Marlin kehilangan Coral dan seluruh telur mereka. Seluruhnya? Oh, ternyata masih tertinggal satu butir! Dengan penuh sayang Marlin melindungi telur itu, dan bertekad untuk selalu melindunginya. Nemo, nama ikan dari telur yang tersisa itu, sudah dicintai ayahnya, bahkan sebelum ia menetas.

Cinta Marlin dalam film Finding Nemo mengingatkan kita akan kasih ilahi. Namun kasih-Nya jauh lebih besar! Mari kita perhatikan. Manusia baru bisa menyambut bahagia seorang anak saat mereka tahu ada janin yang hadir dalam kandungan seorang wanita. Namun sungguh luar biasa Allah. Dia telah mencintai kita bahkan sebelum kita hadir di
rahim ibu kita (ayat 13)!

Selanjutnya, orang mungkin menyukai kita karena berwajah cantik atau tampan, berdompet tebal, berbakat mengagumkan, berkedudukan tinggi, atau berjasa baik. Dengan kata lain, kita dicintai karena kinerja atau kebaikan kita. Namun, Allah mengasihi kita jauh sebelum kita mampu melakukan sesuatu bagi Dia (ayat 16). Allah bahkan tetap
mengasihi sekalipun kita kerap memberontak kepada-Nya, karena Dia telah memutuskan untuk mengasihi kita.

Hari ini, sejak kita bangun di pagi hari, kasih Allah sudah menyambut kita. Mari kita menghambur ke dalam pelukan-Nya dan mengucap syukur!

TAK ADA KASIH YANG MAMPU MENYAMAI
KASIH ALLAH KITA

Mazmur 139:1-24

1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau
menyelidiki dan mengenal aku;
2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau
mengerti pikiranku dari jauh.
3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
segala jalanku Kaumaklumi.
4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya,
semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau
menaruh tangan-Mu ke atasku.
6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak
sanggup aku mencapainya.
7. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat
lari dari hadapan-Mu?
8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh
tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di
ujung laut,
10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan
kanan-Mu memegang aku.
11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam
menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku
dalam kandungan ibuku.
14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan
ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar
menyadarinya.
15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku
dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di
bagian-bagian bumi yang paling bawah;
16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu
semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satupun dari padanya.
17. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa
besar jumlahnya!
18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada
pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga
menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,
20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau
dengan sia-sia.
21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci
Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang
bangkit melawan Engkau?
22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.
23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku;
24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan
yang kekal!

February 12, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

Cemburu = Tanda Cinta?


Nats: Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu (1Korintus 13:4)


Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan “kasih … tidak cemburu” (1Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha “mencetaknya” menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih.

Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1Korintus 13:7 mengatakan, “Kasih … percaya segala sesuatu.” Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap!

KASIH TAK MENJADI LEBIH KUAT KARENA CEMBURU
KASIH DIPERKUAT OLEH SIKAP LEBIH PERCAYA

1Korintus 13:4-7

4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia
tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain.
6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena
kebenaran.
7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

February 11, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

EVERLASTING LOVE


Nats: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3)

Dunia ini sarat dengan perubahan. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang akan bertahan untuk selamanya. Baju yang kita kenakan hari ini mungkin pernah menjadi baju favorit kita di waktu yang lalu, tetapi seiring dengan waktu, baju itu terlihat begitu biasa. Mobil kita yang ketika masih baru mungkin sering kita bangga-banggakan, tetapi
lihatlah sekarang, kita kesal dengan mobil yang sudah mulai sering rawat inap di bengkel. Empat puluh tahun lalu mungkin kita termasuk gadis cantik yang jadi rebutan banyak orang, tetapi sekarang, siapa yang peduli pada nenek-nenek yang sudah peyot?

Itulah kehidupan di dunia. Tak ada yang kekal. Tak ada yang bisa bertahan untuk selamanya. Hanya satu yang tetap kekal; kasih Allah! Allah mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah berubah. Tidak pernah berhenti. Allah mengasihi kita untuk selamanya.

Saat kita berbuat dosa dan membutuhkan pengampunan Tuhan, ingatlah bahwa kasih-Nya kekal. Saat kita memasuki masa-masa sulit, ingatlah bahwa kasih Tuhan itu kekal. Jika di waktu lalu Tuhan pernah menolong kita dengan cara yang ajaib, tidak mustahil hari ini kita juga akan mengalami lagi pengalaman yang dahsyat bersama dengan Tuhan.
Sebagaimana pemazmur menulis, “Kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya” (Mazmur 103:17).

Jika Tuhan mengasihi kita dengan kasih kekal, lalu bagaimana kita mengasihi Dia? Marilah kita mengasihi Allah semaksimal yang kita mampu, sebagaimana Allah sudah mengasihi kita semaksimal yang Dia mampu. Dalam situasi dan kondisi apa pun.

BUKANKAH HIDUP KITA SUNGGUH TERJAMIN
KARENA KASIH YANG KEKAL ADA DALAM HIDUP KITA?

Mazmur 136:1-9

1. Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya.
2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya.
3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya.
4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban
besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
5 Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan!
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
6 Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya
untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
7 Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar;
bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
8 Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya.
9 Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya
untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

February 10, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

SALING MENEGUR

Nats: Kalaupun seseorang kedapat-an melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan (Galatia 6:1)

Kerap kali kita segan menegur orang lain yang melakukan kesalahan, dengan banyak alasan: “diam adalah emas”, “nanti akan segera dilupakan”, “takut membuat orang tersinggung dan menjadi marah”, “saya sendiri belum sempurna”. Namun, Alkitab justru mengajar kita untuk membudayakan tegur-menegur dalam hidup bergereja.

Pertama, bila kita tahu bahwa seseorang bersalah, jangan berdiam diri saja. Kita perlu menegur untuk mengingatkannya. Namun, kita harus
mendapatkan data dan fakta tentang pelanggaran tersebut, bukan asal percaya gosip. Tegur ia terlebih dahulu secara pribadi, mungkin memang ia tidak menyadari kesalahannya itu (Matius 18:15). Kedua, kita harus memimpin orang ke jalan yang benar, artinya tidak mengkritik secara destruktif, tetapi memberi pemecahan yang
membangun. Lebih bijaksana lagi bila kita mengawali dengan pertanyaan; sebab mungkin saja kita yang salah mengerti. Ketiga, jangan menyerah kalau ternyata orang itu tidak mau ditegur. Mewujudkan niat baik terhadap orang lain kadang juga perlu perjuangan. Libatkan pihak kedua atau ketiga yang berkompeten untuk bersama-sama menegurnya (ayat 16). Keempat, jika ia memang tak mau juga dinasihati, bawalah masalahnya ke jemaat (ayat 17). Supaya jemaat sebagai persekutuan orang percaya bisa turut membantunya. Dan kelima, yang juga penting adalah, menegur sambil mawas diri. Jangan sampai kita sendiri jatuh dalam kesalahan yang sama. Ya, kita perlu memiliki kerendahan hati agar dapat menegur sebagai sahabat yang solider (Galatia 6:1).
Mari kita budayakan tegur-menegur yang alkitabiah, agar gereja semakin bertumbuh!

Matius 18:15-18

15. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah
empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah
mendapatnya kembali.
16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua
orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi,
perkara itu tidak disangsikan.
17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya
kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,
pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau
seorang pemungut cukai.
18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di
dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di
dunia ini akan terlepas di sorga.

MEMBIARKAN TEMAN TERUS HIDUP DI DALAM DOSA
BUKANLAH SIKAP SAHABAT YANG BAIK

February 10, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

YANG MENGURAS ENERGI

Nats: Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu (Amsal 3:21)

Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap sang hakim. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka, yang sebenarnya sangat sederhana. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis cambuk 10 kali bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum memprotes. Sang hakim menjawab, “Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3×7 adalah 21!”


Tentu saja itu hanya cerita rekaan. Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan. Sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga, atau kolega. Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita mengalah untuk perdebatan atau pertengkar-an yang sia-sia. Mengalah bukan berarti kalah, bukan? Untuk itu kita perlu mempertimbangkannya dengan bijaksana. Seperti kata Amsal 3:21, “… janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu.” Memang tak mudah. Kita hanya dapat melakukannya dengan hati bersandar kepada Tuhan (ayat 26), hingga kita pun berjalan dengan aman, tanpa
terantuk (ayat 23)

HANYA ORANG BODOH YANG TIDAK BISA MARAH
TETAPI SUNGGUH ARIF ORANG YANG TIDAK SUKA MARAH

Amsal 3:21-26

21. Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu
menjauh dari matamu, peliharalah itu,
22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan
bagi lehermu.
23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan
kakimu tidak akan terantuk.
24 Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi
engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.
25 Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada
kebinasaan orang fasik, bila itu datang.
26 Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan
menghindarkan kakimu dari jerat.

February 10, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

MENYIKAPI KONFLIK

Nats: Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14)

Sekuat dan sesehat apa pun tubuh kita, pasti ada saatnya kita jatuh sakit; entah flu atau batuk. Begitu juga relasi kita dengan orang lain; seharmonis dan seakrab apa pun relasi kita dengan orang lain, pasti ada saatnya kita berkonflik. Sebab pada dasarnya kita ini berbeda; latar belakang, cara pikir, kepekaan, karakter. Di samping itu, kestabilan emosi kita ada saatnya turun, sehingga kita menjadi lebih peka dari biasanya.


Jadi sebetulnya konflik itu wajar-wajar saja. Bahkan dalam kadar tertentu, konflik ada baiknya juga; membuat kita bisa lebih saling menerima dan memahami. Yang penting sebetulnya bukan konfliknya, tetapi bagaimana kita menyikapinya. Konflik akan menjadi produktif kalau kita sikapi dengan positif. Sebaliknya konflik akan kontraproduktif kalau kita sikapi dengan negatif.

Pdt. Andar Ismail dalam bukunya, “Selamat Ribut Rukun”, menyebut tiga cara negatif yang kerap dilakukan orang dalam menyikapi konflik:

1. Perang terbuka (saling memukul, saling memaki),
2. Perang dingin (saling mendiamkan),
3. Cara anak kecil (mengambek).

Ketiga sikap tersebut bukan sikap yang baik dalam menangani konflik. Bukan saja tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah bisa menimbulkan masalah baru.

Menyikapi konflik secara positif adalah dengan kasih. Kasih merupakan pengikat yang menyempurnakan dan mempersatukan sebuah relasi. Kasih itu mewujud dalam belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan. Dan, yang lebih penting lagi, kasih itu bertolak dari damai sejahtera Kristus dalam hati.

YANG PENTING BUKAN KONFLIKNYA
TETAPI BAGAIMANA MENANGANINYA

Kolose 3:12-15

12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang
dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan,
kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah
seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,
kamu perbuat jugalah demikian.
14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat
yang mempersatukan dan menyempurnakan.
15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,
karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan
bersyukurlah.

February 7, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

HADIR DEKAT


Nats: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17)

Bob tercekam dalam kedukaan saat istrinya meninggal dunia. Ia dan anak-anaknya tidak tahu harus berbuat apa. Telepon terus berdering. Teman-teman mengucapkan kata penghiburan, namun tak satu pun mempan. Esok harinya, Bob bangun disertai nyeri rasa sepi. Sahabatnya, David, menelepon. “Bob, aku sudah di bandara. Empat jam lagi tiba di kotamu. Aku tahu kamu sedang tak mau diganggu. Aku akan tinggal di hotel. Kapan pun kamu butuh bantuanku, teleponlah!” Bob terharu. David tak memberi nasihat. Ia hanya ingin hadir menemaninya. Belakangan David membersihkan rumahnya, membelikan makanan untuk anak-anaknya, duduk di sebelahnya tanpa bicara.

Ketika Ayub ditimpa musibah, ketiga sahabatnya juga berusaha melakukan yang terbaik. Jauh-jauh mereka datang “dari tempatnya masing-masing” (ayat 11). Motivasi mereka murni: ingin menghibur. Solidaritas mereka tinggi. Mereka ikut menangis dan mengoyakkan jubah, tanda kedukaan. Mereka pun hadir bagi Ayub. Tujuh hari lamanya
mereka duduk bersama Ayub. Diam. Sayangnya, setelah itu mereka tidak tahan. Mulailah mereka menasihati dan menghakimi. Akibatnya, Ayub menjadi kecewa (Ayub 2:25-30).

Untuk menjadi “saudara dalam kesukaran”, kerap yang dibutuhkan bukanlah perkataan hikmat. Sahabat kita kadang tidak butuh banyak nasihat. Yang ia butuhkan hanyalah kehadiran dan pendampingan kita. Telinga yang peka mendengar, bukan mulut yang cepat menghakimi. Hati yang peka dan mengerti. Bersediakah Anda menjadi sahabat yang baik?
Jangan memaksanya menuruti pendapat kita. Bebaskanlah sahabat Anda menjadi dirinya sendiri

SAHABAT ANDA TIDAK BUTUH KATA-KATA MEMIKAT
IA HANYA MEMERLUKAN ANDA HADIR DEKAT

Ayub 2:11-13

11. Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala
malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya
masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang
Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk
mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.
12 Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya
lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka
mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit.
13 Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh
hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata
kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
penderitaannya.

February 6, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

KEMASAN YANG MEMIKAT


Nats: Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1Samuel 16:7)

Salah satu hal yang penting dalam marketing adalah kemasan. Walaupun ada lebih dari satu merek dalam satu jenis produk, tetapi bila kemasannya berbeda, maka akan berbeda pula hasil penjualannya. Survei membuktikan; kemasan berpengaruh sangat besar dalam penjualan. Sebab ternyata banyak orang yang membeli sebuah produk lebih karena kemasannya. Jadi, tak heran kalau misalnya permen, tidak hanya beraneka rasa dan bentuknya, tetapi juga beragam kemasannya.

Hal ini pula yang terjadi pada Samuel ketika bertandang ke rumah Isai. Ia datang untuk mengurapi seorang raja bagi Israel. Sebuah jabatan yang tidak main-main. Wajar kalau ia berpikir bahwa orang yang akan dipilih Allah adalah seseorang yang berperawakan tinggi dan kuat, berwajah penuh wibawa. Itu sebabnya, ia langsung kepincut ketika melihat Eliab, seorang anak Isai yang berpenampilan meyakinkan. Namun, apakah Tuhan memilihnya? Ternyata tidak. Samuel boleh saja melihat apa yang tampak oleh mata, tetapi Tuhan lebih melihat hati.

Banyak orang juga cenderung lebih berfokus pada “bentuk” daripada “isi”; lebih senang melihat penampilan luar daripada kualitas yang ada di dalam. Apakah ini salah? Dalam kaitannya dengan orang, tentu saja salah. Sebab penampilan luar seseorang tidak selalu mewakili kualitas hati. Jadi, salah juga bila kita ke-mudian begitu mati-matian menjaga penampilan lahiriah, tetapi lalai menjaga kualitas rohani. Mari kita berhati-hati menilai orang lain. Pula lebih bersungguh-sungguh menjaga hati. Tuhan lebih melihat apa yang ada di dalam

JANGAN MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILANNYA
DI BALIK JAS TUA, BISA ADA HATI YANG KAYA

1Samuel 16:1-13

1. Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau
berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja
atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.
Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di
antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”
2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika
Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah
seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan
korban kepada TUHAN.
3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku
akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah
bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”
4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia
di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya
dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa
selamat?”
5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban
kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke
upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan
anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara
pengorbanan itu.
6. Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu
pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang
diurapi-Nya.”
7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang
parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat
apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan
Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih
TUHAN.”
9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata:
“Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”
10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan
Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak
dipilih TUHAN.”
11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?”
Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang
menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah
memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia
datang ke mari.”
12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan,
matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman:
“Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”
13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan
mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari
itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu
berangkatlah Samuel menuju Rama.

February 5, 2008 Posted by | Renungan | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.