Blessing Based Spiritual Nurture

Percakapan Dua Angsa

Di tengah penggalan surat yang berisi kerikil ungu
matamu mulai terbang keatas mendung mencari hujan
dan mengalirkannya lewat musim semi yang kosong
tanganmu meraih dendam didasar laut yang bisu
mengenyam pulau dalam lukisan mulut
dan melambangkan keajaiban rumah tua, resapan yang pekat
selembar matahari telah menjadi kepingan uang emas,
dimana kebodohan meledak dan meleleh oleh angin para pendosa
sebuah retakan diwajahmu meninggalkan jejak
yang membiru

Ketika sebuah nyanyian menaiki bukit zaitun,
dendampun memudar dari planetnya
membayangkan sebuah rumah yang dibangun didalam tambak
semua hanya ratapan indah mimpi buruk
tetapi suaraku kian merangkak ditepi badai yang memutih,
membeberkan kisah kematian
siklus bayanganmu meledakkan lengkingan harmonika
dan pesona kawah yang menghimpun taman sari

Kebohongan yang semakin resah
semua seperti gundukan padi di lumbung petani,
mengundang ciuman, lekuk tubuh tanpa busana
menghitam

Pekikan angsa hiasi lukisan matahari di tengah percakapan labirin
yang mengering, aku kian menyadari jalan raya yang pengap
menyerupai sarang laba-laba ditengah kota yang membangun pabrik
dan mendiamkan kesunyian terpotong irisan kota
yang raib

(djogdja, september 2002)

August 1, 2007 - Posted by | 2nd Death

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: