Blessing Based Spiritual Nurture

LEBAH YANG MURAH HATI

Nats: Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Filipi 2:3)

Lebah terkenal sebagai serangga sosial. Mereka selalu siap sedia memberi makan sesama lebah, bahkan lebah dari koloni lain. Lebah pekerja memberi makan ratu lebah yang tidak bisa mencari makan sendiri. Mereka memberi makan lebah jantan yang sedang aktif di sarang. Mereka tentu juga memberi makan anak-anak lebah. Naluri saling memberi makan ini melandasi tatanan kehidupan lebah. Dan, mereka tampak menyukainya!

Bukankah ini mirip dengan komunitas tubuh Kristus? Ketika melaporkan kehidupan orang-orang kristiani mula-mula kepada Kaisar Hadrian (76-138), Aristides menulis, “Mereka saling mengasihi. Mereka tidak lalai membantu janda-janda; mereka menolong anak-anak yatim dari orang-orang yang menyakiti mereka. Kalau mereka memiliki sesuatu, mereka memberi dengan sukarela kepada orang yang tak berpunya; kalau mereka melihat orang asing, mereka mengajaknya singgah ke rumah dan menerimanya dengan gembira, seolah-olah orang itu adalah saudara mereka sendiri. Mereka tidak menganggap diri mereka saudara dalam pengertian yang lazim, melainkan saudara oleh Roh, di dalam Allah.”

Tuhan rindu gereja menjadi komunitas yang penuh kasih (Filipi 2:1,2), baik kasih di antara sesama anggota maupun kasih kepada warga masyarakat secara luas. Hal itu akan terjadi bila masing-masing anggota berinisiatif untuk saling melayani, bukan menuntut dilayani (ayat 3,4); bila masing-masing anggota memperlakukan sesama seperti Kristus memperlakukan dirinya, bukan sebagai pesaing dalam mengejar ambisi pribadi (ayat 5-7). Hari ini, mari kita teladani lebah-lebah yang murah hati itu.

GEREJA TERBENTUK DARI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
YANG SALING MEMERHATIKAN DAN MEMBERI HIDUP

Filipi 2:1-11

  1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
  2. karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
  3. dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
  4. dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
  5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
  6. yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
  7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
  8. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
  9. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada dilangit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
  10. dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

February 17, 2008 - Posted by | Renungan

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: